January 29th, 2012

Wishing Upon a Miracle

The doctors were trying to save you for 6 damn months, but they finally said the time has come.

It comes up that your tumor has been spreading all over your veins, and there is no medicine. Nope.

Yet there’s always hope from us. Us, your friends, wishing for a miracle. Keep fighting, Indah.

And yes, I’ll be saying this again and again. Hope you’ll soon be fine like the way you were before, because things just won’t be the same till you’re well.

Sisters-Bonding Time!

My sister and I are living under the same roof, but we barely see each other. It’s considered a wonder if we have a couple of hours to be spent together.

 So according to that, last night can be counted as a wonder. We decided to have a little culinary trip, starting from Coto Makassar we saw a few months ago, but never had enough time to taste it.

Located at the very edge of Bahureksa Street, this place looks comfortable enough if you want to have a meal there, but this is definitely not a place to hang out for hours. The Coto Makassar tastes good enough to satisfy our craving. Being born in South Celebes, I spent my first ten years of life living there and I’ve grown to like this food.

Many places serve this traditional food, but only a few have the original taste. Unfortunately, this is not one of that. It’s a bit like beef stew rather than Coto Makassar. After all, it’s acceptable for our Celebes tongue, and it’s delicious enough if you don’t compare it to the original.

Coto Makassar, best served with buras. But ketupat will do me good ;)

Next destination: Spatula. We don’t give much a chance for the food to be digested as we went straight to Wira Angun Angun Street. I’ve heard about Oma Anna‘s craft and the famous homemade jam, and I was sooo curious. We ordered chicken macaroni schotel and toast with orange jam. For the drink, we decided to share and only ordered Oma Anna’s homemade syrup.

The best thing is, insert drumroll here, the toast! It’s the best toast I’ve ever tasted, and I’m not exaggerating, I swear. The bread is soft and chewy, the butter tastes so creamy, and the jam adds special kick. To make it better, the jam is organic. The schotel tastes good too, but it could do better with longer baking since it’s too moist. The syrup, well, my sister looooves it!

After all, this is a very recommended place to eat. I’m craving for more, and will definitely go back here. I’m impressed with the owner. When all diners in Bandung are racing to build a European atmosphere, Spatula maintains a strong old Indonesian atmosphere. Entering Spatula made me feel like going into my grandma’s house, and it’s heartwarming in a weird way. In addition, it’s cheap too!

The BEST toast with orange jam


Chicken macaroni schotel


Follow Spatula’s twitter, @spatulaBDG or kindly visit the blogs here and here.

Let’s have another culinary adventure, Div Kak! :D

Taken fromhttp://herlittlejournal.wordpress.com/2012/01/27/sisters-bonding-time/

January 28th, 2012
Instead of being fascinated by things around us, we now try so hard to fascinate others by things on us.

Ika Natassa, Antologi Rasa

For those who keen to wear expensive branded yet unimportant stuff only for prestige.

(Source: wanderlustsatan, via anneafrln)

January 16th, 2012
Biar pinter inggris minum kecap inggris, biar pinter mandarin makan jeruk mandarin.

Juan Alvarez

Saat disuruh ngerjain PR Inggrisnya. Gue bener-bener ga paham filosofi hidupnya.

BestBro

Most people on my age don’t get along with their baby little brother. But I do. Years apart between our age doesn’t seem to be a problem.

Walaupun dia ngeselin tingkat ultima, suka ngemilin makanan gue, suka kentut sembarangan, suka rebutan remote TV dan laptop, tapi dia manis banget.

Gue punya kelainan aneh kalo tidur malem sering terbangun kehausan, jadi tiap malem kalo mau tidur harus selalu bawa-bawa gelas minum. Tapi gelas minum pun kadang-kadang ga cukup, jadi ga jarang gue tengah malem turun ke bawah buat refill.

Beberapa waktu yang lalu, si adek main ke grand opening replikanya Disney World. Pulang-pulang, dia ngebawain gue ini:

Gelas minum Baby Donald Duck gede warna biru yang ada tutupnya.

Si adek bilang, “Ini buat kakak bawa kalo mau tidur. Gelasnya besar jadi kalo udah malem ga usah bolak-balik turun ke bawah lagi buat ambil minum.”

Uuuuh unyu banget sih dek :’)

Terus nih ya, beberapa hari yang lalu sekeluarga makan Seafood. Pas lagi hebohnya makan kepiting, jempol gue ketusuk cangkang sampe bedarah. Ngeliat itu, si adek dengan manisnya berinisiatif mecah-mecahin cangkang kepiting buat gue, dan daging polos yang udah bebas cangkang dia letakin di piring gue.

Can possibly a little brother be sweeter than him?

And oh, gue kalo bobo ga pernah sendiri dan masih bareng si adek because he surprisingly still smells good, just like a baby :”>

January 15th, 2012

Founded: My Mr. Gentleman #nenaonan #ihjijay

Hmm jadi kisahnya ini agak menjijaykan, ala FTV yang suka nongol siang-siang di SCTV banget. Iya gue juga gatau kenapa takdir gue kayak gini #naoooon

Kurang lebih 3 bulan lalu, basement CC Barat hectic bgt dipenuhin anak-anak Material dan Metalurgi yang sibuk ngurusin MM Fair. ISO yang tadinya juga latian di basement CC Barat untuk Dies MBWG pun tergusur, dan jadi latian di selasar GKU Timur depan bank-bank situ loh yang ada jual sushi lumayan enak dan ngenyangin kalo siang-siang cuma cecengan doang grab it fast! #promo

Selesai latihan jam 9an malem, bumi Ganesha dibasahi hujan rintik-rintik *makin FTV deh*. Gue dibantu Kak Abaych tersaruk-saruk ngegotong keyboard yang bujubuneng beratnya kayak karung sejuta kentang di tengah kegelapan malam, kepleset-pleset dan keinjak-injak kubangan becek ga ada ojek pula hhhh life’s tough. In addition, dudukan partiturnya gue bawa dengan cara gue ketekin. Pokoknya ribet deh.

Sampai di bundaran pertengahan CC Timur dan CC Barat, gue udah patah arang buat ngangkut itu keyboard ke bawah lewat turunan licin jahanamnya CC Barat. Boro-boro ujan, pas ga ujan aja gue sering kepleset di sana.

Rambut lepek keujanan, sepatu penuh lumpur, tangan kekar berotot tapi pegel, punggung bongkok dan pinggang pegal linu. Sumpe ga lebay itu keyboard berat banget loh guys you should try it someday eh ini bukan info kuliner ya hmm.

Pasrah, gue ngeliat Kak Abay minta dukungan moral, berhenti di tengah sambil berpandang-pandangan dan bolak-balik melempar tatapan ngeri ke turunan licin jahanam itu.

Tiba-tiba, seseorang berjaket Material nyamperin, “Sini digantiin, mau dibawa kemana?”

Horee ada temennya Kak Abay mau bantuin, pikir gue. Cuek dengan hati riang gembira gue berlenggang kangkung cuma bawa dudukan partitur dan kabel adaptor, sementara Kak Abay dan Si Material bersusah payah nurunin keyboard lewat turunan jahanam CC Barat. Setelah melakukan perbuatan mulia itu, tiba-tiba Si Jaket Material menghilang. Puff, disappeared into thin air. Jreeengg…jreenngg…

Engga deng, palingan dia kelelep dalam hingar bingar persiapan MM Fair.

“Untung ada temen Kak Abay tadi, mau bawain keyboardnya.”

“Hah itu bukannya temen kamu? Kirain dia temen kamu jadi mau bantuin kamu.” Si Abaych heran.

“Ih kirain Kak Abay! Lah terus kok mau susah-susah gotongin keyboard kita gerimis-gerimis gini?” Gue ga kalah heran.

Lalu Kak Abay dan gue bengong.

Oh la la *bukan nama kafe*. He’s not Abay’s friend nor mine. It turned up that he’s only a stranger, a gentle one #eaaaa #sinetron.

Gue dan Kak Abay sempat mau bikin sayembara untuk nemuin identitas lelaki gentle berjahim material ini (eh serius loh), yang langsung ngilang setelah menuntaskan perbuatan mulianya. Kita sama-sama ga ngerti mukanya kayak gimana, tapi dengan ciri-ciri berjahim Material, bertopi merah, dan berkaca mata, pasti anak-anak himpunan Material dengan gampangnya bisa ngenalin dia siapa.

…….

Time passed by, Mr. Gentleman still remain unknown. Pas dengan randomnya chatting jam 3 pagi dengan seorang teman dari jurusan Material, iseng-iseng nanya siapa anak Material yang suka pake topi dan berkaca mata.

Jreeengg…jreenngg langsung ketemu, ternyata jahim Material + topi merah + kaca mata itu tipikalnya seorang anak Material berinisal GPK. Langsung deh perkepoan facebook dimulai fufufu. Dan ternyata dia….. mirip Capain Tsubasa #APAAAA?

Ga kenal sih. Tapi yaudah lah ya haven’t had chance to say this properly: thanks for your helping hand back there 3 months ago, gentle stranger in the middle of drizzle :)

world-shaker:

Lifecycle of the Average Tumblr User

Me. At this very time. Urgh.

world-shaker:

Lifecycle of the Average Tumblr User

Me. At this very time. Urgh.

(via ilovecharts)

January 9th, 2012
[Flash 10 is required to watch video]

New Year has passed and this video is like a week late, but enjoy!

Auld Lang Syne - Robert Burns

Should auld acquaintance be forgot,
And never brought to mind?
Should auld acquaintance be forgot,
And days o’ lang syne!

Chorus:
For auld lang syne, my dear
For auld lang syne,
We’ll tak a cup o’ kindness yet
For auld lang syne!

We twa hae run about the braes,
And pu’d the gowans fine,
But we’ve wander’d mony a weary foot
Sin’ auld lang syne.

We twa hae paidl’t in the burn
Frae morning sun till dine,
But seas between us braid hae roar’d
Sin’ auld lang syne.

And there’s a hand, my trusty fiere,
And gie’s a hand o’ thine,
And we’ll tak a right guid willie-waught
For auld lang syne!

And surely ye’ll be your pint’ stoup,
And surely I’ll be mine!
And we’ll tak a cup o’ kindness yet
For auld lang syne!

December 26th, 2011
  • Adek: Ikan apa yang penyakitan?
  • D: Gatau.
  • Adek: Ikan kembung! HAHAHAHHA
  • Bokap: (gamau kalah) Ikan apa yang bandel?
  • Adek + D: Err... Gatau.
  • Bokap: Ikan kembung. Udah tau kembung, masi aja di air!
  • D: -________-"

that awkward moment when you`re on your period & everything makes you cry .

wowfunniestposts:

if your shower is cold

when your mom calls you

if your friend doesn`t text you back in 2.56 seconds

when the street lights turn red before you could go

Featured on Wow Funniest Posts

(Source: soulofascorpio)

December 22nd, 2011
Gagan dan Ikhsan
Gagan dan Ikhsan, adik-adik cilik yang rumahnya kami invasi selama akhir pekan Kembang Desa di Kampung Cibuluh. Kakak beradik yang dibesarkan pasangan Bapak Ujang Juhya dan Ibu Wati ini umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari adik gue yang manja tapi super gue sayangi—eh nah loh ga relevan kan nah lanjuutt.
Si bungsu, Gagan (the boy with the orange shirt), baru duduk di kelas 2 SD. Tapi jahilnya masyaoloh ampun-ampunan banget bikin nenek-nenek ngunyah sirih keselek. Bocah jahil ini super friendly, baru kenal sebentar udah mau rangkul-rangkulan dan kampretnya udah berani morotin kakaknya ini haha.
Jadi ceritanya dia tuh pengen banget naik perahu keliling desa, tapi dasar gue ga modal, di kantong cuma ada 6ribu perak plus satu pak kecil permen Su*us. Ya kali bayar perahu pake Su*us. Terus gue ga ngerti entah gimana caranya, pokoknya pada akhir cerita kami berhasil naik perahu muter-muter, tapi duit gue raib trus permen gue dari satu pak sisa 2 biji doang. Iya, dia emang bocah ajaib.
Meskipun jahil, Si Gagan ini punya cita-cita mulia menjadi orang saleh macem priayi-priayi zaman Batavia loh. Subhanallah sekali. Marilah Sodara-sodara sekalian kita doakan agar cita-cita Dek Gagan terwujud amiiiiiin.
Ikhsan, si Sulung yang tampan dan jago ngaji ini beda lagi. Dia udah kelas 5 SD dan gue jamin kelak bakalan jadi a true gentleman. Kalo gue punya adek cewe bakal gue pinangin deh mereka berdua! #loh. Ikhsan selalu nemenin kita kemana pun kita pergi dan bertindak kayak tour guide Cibuluh. Diajak ke kebun tomat, kebun kubis, kebun waluh, danau, tempat ayam, dll.
Si sulung ini juga protektif banget. Waktu jalan-jalan ke danau, Gagan yang jahil nangkepin kodok-kodok danau trus dilempar-lempar ke kita. Jelaslah gue dan temen-temen gue yang manja dan ababil ini berteriak-teriak histeris. Ikhsan langsung datang dengan gagahnya menghalau kodok-kodok itu dan menjauhkan Gagan dari gue dan teman-teman, sampe akhirnya dia sendiri berantem sama Gagan.
Gagan yang ngambek lalu kabur, ngumpet di entah pojok desa sebelah mana. Ikhsan menginstruksikan supaya kita balik duluan ke rumah sementara dia nyari adiknya. How gentle and brotherly :3
Kulit Ikhsan dan Gagan yang legam bukan karena keturunan atau terbakar sinar matahari. Sementara Pak Ujang bertani di Surabaya dan Bu Yati merantau ke Arab Saudi, Ikhsan dan Gagan dititipkan di Uwanya di Bangka Belitung selama 4 tahun.
Di Bangka inilah, mereka tinggal dekat sekali dengan site pertambangan timah, dimana limbah-limbah perusahaannya ga terkontrol dan bahkan mendengar ceritanya, gue ga yakin perusahaan itu lolos AMDAL. Air disana tercemar timah, sehingga kulit penduduk sekitar situs pertambangan tsb legam semua dan gigi mereka keropos serta kekuningan.
Ternyata, Gagan dan Ikhsan baru 5 bulan tinggal di Cibuluh. Sepulangnya Ibu Yati dari perantauan di Arab Saudi, Ibu Yati berhasil membeli rumah di Kampung Cibuluh itu. Pak Ujang pun datang dari Surabaya, mempercayakan lahan pertaniannya pada anak-anak dari istri pertamanya.
Mereka ingin berkumpul lagi, tapi Uwa di Bangka ga mengizinkan Ikhsan dan Gagan kembali ke pangkuan sang ibunda #cekileeh. Biasalah, masalah duit. Dengan kembalinya Ikhsan-Gagan ke tangan orang tuanya, berhenti pula aliran duit ‘tunjangan hidup’ Ikhsan-Gagan. Uwa mengizinkan mereka kembali, dengan syarat dikirimi 2juta/bulan. Yakali deh palalo minta 2juta/bulan, duit kosan gue aja ga segitunya.
Perebutan hak asuh ini terjadi sampai lebih dari setahun. Bahkan, Pak Ujang dan Bu Yati mengaku mereka udah pernah menghubungi Tra*sTV  berkali-kali untuk pencarian orang hilang di Terme*ek-Me*ek, tapi ga pernah dapet jawaban dari Tra*sTV. DEG. Gue sedikit merasa bersalah. Dari SMA, gue selalu nonton Terme*ek-Me*ek untuk dijadikan bahan tertawaan karena rekayasa-rekayasanya yang lebay dan sinetron abis. Sedih dan agak kaget, ga nyangka kalo Pak Ujang dan Bu Yati sesederhana itu, mau berusaha dan memanfaatkan media apapun yang terpikir oleh mereka buat mengusahakan berkumpul lagi sama anak-anak mereka :’|
Sekitar 5 bulan yang lalu, Ikhsan dan Gagan dibawa Uwanya ke Jawa untuk urusan apa gitu ya gataulah. Begitu tau anak mereka ada di Jawa, tanpa persiapan apapun Pak Ujang langsung nombok nyewa mobil orang, lalu memboyong anak mereka ke Cibuluh. Kakak beradik ini sampai di Cibuluh dini hari, hanya dengan barang seadanya saja setelah dijemput Pak Ujang. Bahkan, rapor sekolah mereka pun masih Bangka.
Bu Yati dan Pak Ujang enggan minta tolong Uwa di Bangka untuk mengurusi kepindahan sekolah dan rapor Ikhsan dan Gagan, karena pasti lagi-lagi larinya ke uang. Uang, uang, dan uang. All money-oriented. Sekarang mereka lagi nyoba nyari kontak kepala sekolah SD Ikhsan dan Gagan, agar mereka bisa ngurus langsung rapor kedua anak mereka tanpa harus melalui Uwa yang matre.
Ikhsan dan Gagan sekarang sekolah tanpa rapor. Hanya bermodal mengejar ilmu aja, tanpa suatu parameter konkret untuk diperjuangkan. Ikhsan yang tahun depan harus mengikuti UN ga bakal bisa dapet ijazah tanpa rapornya. Mudah-mudahan Pak Ujang dan Bu Yati bisa cepat memperoleh balik rapor mereka deh ya. Tapi yang terpenting, mudah-mudahan kedua bocah ini ga patah semangat untuk belajar dan terus belajar, dengan ataupun tanpa rapor.

Gagan dan Ikhsan

Gagan dan Ikhsan, adik-adik cilik yang rumahnya kami invasi selama akhir pekan Kembang Desa di Kampung Cibuluh. Kakak beradik yang dibesarkan pasangan Bapak Ujang Juhya dan Ibu Wati ini umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari adik gue yang manja tapi super gue sayangi—eh nah loh ga relevan kan nah lanjuutt.

Si bungsu, Gagan (the boy with the orange shirt), baru duduk di kelas 2 SD. Tapi jahilnya masyaoloh ampun-ampunan banget bikin nenek-nenek ngunyah sirih keselek. Bocah jahil ini super friendly, baru kenal sebentar udah mau rangkul-rangkulan dan kampretnya udah berani morotin kakaknya ini haha.

Jadi ceritanya dia tuh pengen banget naik perahu keliling desa, tapi dasar gue ga modal, di kantong cuma ada 6ribu perak plus satu pak kecil permen Su*us. Ya kali bayar perahu pake Su*us. Terus gue ga ngerti entah gimana caranya, pokoknya pada akhir cerita kami berhasil naik perahu muter-muter, tapi duit gue raib trus permen gue dari satu pak sisa 2 biji doang. Iya, dia emang bocah ajaib.

Meskipun jahil, Si Gagan ini punya cita-cita mulia menjadi orang saleh macem priayi-priayi zaman Batavia loh. Subhanallah sekali. Marilah Sodara-sodara sekalian kita doakan agar cita-cita Dek Gagan terwujud amiiiiiin.

Ikhsan, si Sulung yang tampan dan jago ngaji ini beda lagi. Dia udah kelas 5 SD dan gue jamin kelak bakalan jadi a true gentleman. Kalo gue punya adek cewe bakal gue pinangin deh mereka berdua! #loh. Ikhsan selalu nemenin kita kemana pun kita pergi dan bertindak kayak tour guide Cibuluh. Diajak ke kebun tomat, kebun kubis, kebun waluh, danau, tempat ayam, dll.

Si sulung ini juga protektif banget. Waktu jalan-jalan ke danau, Gagan yang jahil nangkepin kodok-kodok danau trus dilempar-lempar ke kita. Jelaslah gue dan temen-temen gue yang manja dan ababil ini berteriak-teriak histeris. Ikhsan langsung datang dengan gagahnya menghalau kodok-kodok itu dan menjauhkan Gagan dari gue dan teman-teman, sampe akhirnya dia sendiri berantem sama Gagan.

Gagan yang ngambek lalu kabur, ngumpet di entah pojok desa sebelah mana. Ikhsan menginstruksikan supaya kita balik duluan ke rumah sementara dia nyari adiknya. How gentle and brotherly :3

Kulit Ikhsan dan Gagan yang legam bukan karena keturunan atau terbakar sinar matahari. Sementara Pak Ujang bertani di Surabaya dan Bu Yati merantau ke Arab Saudi, Ikhsan dan Gagan dititipkan di Uwanya di Bangka Belitung selama 4 tahun.

Di Bangka inilah, mereka tinggal dekat sekali dengan site pertambangan timah, dimana limbah-limbah perusahaannya ga terkontrol dan bahkan mendengar ceritanya, gue ga yakin perusahaan itu lolos AMDAL. Air disana tercemar timah, sehingga kulit penduduk sekitar situs pertambangan tsb legam semua dan gigi mereka keropos serta kekuningan.

Ternyata, Gagan dan Ikhsan baru 5 bulan tinggal di Cibuluh. Sepulangnya Ibu Yati dari perantauan di Arab Saudi, Ibu Yati berhasil membeli rumah di Kampung Cibuluh itu. Pak Ujang pun datang dari Surabaya, mempercayakan lahan pertaniannya pada anak-anak dari istri pertamanya.

Mereka ingin berkumpul lagi, tapi Uwa di Bangka ga mengizinkan Ikhsan dan Gagan kembali ke pangkuan sang ibunda #cekileeh. Biasalah, masalah duit. Dengan kembalinya Ikhsan-Gagan ke tangan orang tuanya, berhenti pula aliran duit ‘tunjangan hidup’ Ikhsan-Gagan. Uwa mengizinkan mereka kembali, dengan syarat dikirimi 2juta/bulan. Yakali deh palalo minta 2juta/bulan, duit kosan gue aja ga segitunya.

Perebutan hak asuh ini terjadi sampai lebih dari setahun. Bahkan, Pak Ujang dan Bu Yati mengaku mereka udah pernah menghubungi Tra*sTV  berkali-kali untuk pencarian orang hilang di Terme*ek-Me*ek, tapi ga pernah dapet jawaban dari Tra*sTV. DEG. Gue sedikit merasa bersalah. Dari SMA, gue selalu nonton Terme*ek-Me*ek untuk dijadikan bahan tertawaan karena rekayasa-rekayasanya yang lebay dan sinetron abis. Sedih dan agak kaget, ga nyangka kalo Pak Ujang dan Bu Yati sesederhana itu, mau berusaha dan memanfaatkan media apapun yang terpikir oleh mereka buat mengusahakan berkumpul lagi sama anak-anak mereka :’|

Sekitar 5 bulan yang lalu, Ikhsan dan Gagan dibawa Uwanya ke Jawa untuk urusan apa gitu ya gataulah. Begitu tau anak mereka ada di Jawa, tanpa persiapan apapun Pak Ujang langsung nombok nyewa mobil orang, lalu memboyong anak mereka ke Cibuluh. Kakak beradik ini sampai di Cibuluh dini hari, hanya dengan barang seadanya saja setelah dijemput Pak Ujang. Bahkan, rapor sekolah mereka pun masih Bangka.

Bu Yati dan Pak Ujang enggan minta tolong Uwa di Bangka untuk mengurusi kepindahan sekolah dan rapor Ikhsan dan Gagan, karena pasti lagi-lagi larinya ke uang. Uang, uang, dan uang. All money-oriented. Sekarang mereka lagi nyoba nyari kontak kepala sekolah SD Ikhsan dan Gagan, agar mereka bisa ngurus langsung rapor kedua anak mereka tanpa harus melalui Uwa yang matre.

Ikhsan dan Gagan sekarang sekolah tanpa rapor. Hanya bermodal mengejar ilmu aja, tanpa suatu parameter konkret untuk diperjuangkan. Ikhsan yang tahun depan harus mengikuti UN ga bakal bisa dapet ijazah tanpa rapornya. Mudah-mudahan Pak Ujang dan Bu Yati bisa cepat memperoleh balik rapor mereka deh ya. Tapi yang terpenting, mudah-mudahan kedua bocah ini ga patah semangat untuk belajar dan terus belajar, dengan ataupun tanpa rapor.

Kembang Desa at Kampung Cibuluh, Desa Pulosari - Pangalengan

Because together we can always share :)

December 21st, 2011

Kelakuan Anak Kelas 5 SD Masa Kini

  • Bocah: Kak, tau ga bedanya kakak sama garuda apa?
  • D: Hah, apa? Kita sama-sama bangsa Indonesia? (<-- jawaban super bego, ditanya perbedaan malah jawab persamaan ga berkualitas macem gini)
  • Bocah: Bukan. Kalo Garuda di dadaku, kalo kakak di hatiku.
  • : 3