Balada Paijo Narejambejo dan Sebuah Truk Diesel
Pada suatu Minggu sore… Dalam evaluasi pasca-konser ISO untuk Dies ke-40 (kalo ga salah ya) Marching Band Waditra Ganesha di Sabuga, seorang violist ISO—yang untuk selanjutnya kita panggil saja Mbak Popmi—berkisah…
Untuk konser hari Minggu, alat-alat besar seperti cello, contra bass, piano, dll dipindahkan hari Sabtu dari Sekre ISO di basement CC Barat Bawah ITB ke Sabuga dengan menggunakan truk. Ya, sebuah truk diesel.
Beberapa orang ikut membantu pemindahan alat-alat, salah satunya adalah manusia lugu nan ekspresif ini, yang selanjutnya kita sebut saja Paijo Narejambejo. Jadi untuk menjaga keselamatan alat-alat, Paijo Narejambejo dan beberapa orang lainnya ikut naik truk untuk menjaga alat-alat dari benturan-benturan yang tak diharapkan. Oke, biasa aja. Nothing special, life goes on… So does Mbak Popmi’s life that early evening.
Sampai akhirnya, handphone Popmi berdering. Ternyata telepon dari Paijo Narejambejo, yang dengan hebohnya mengabarkan kalau saat itu dia lagi naik truk… Sedang naik truk loh, at that very moment. Bukan setelah turun dari perjalanannya dengan truk baru nelepon Popmi, tapi saat sedang di atas truk. Past continous, sodara-sodara.
Dan dalam telepon berdurasi hampir 1 menit itu, Paijo Narejambejo ga ngapa-ngapain selain bersorak-sorai dengan girangnya, mengabarkan kalo dia lagi naik truk diesel kepada Popmi yang bengong di saluran seberang.
Paijo Narejambejo naik truk diesel menuju Sabuga.
Truk diesel dinaiki Paijo Narejambejo menuju Sabuga.
Menuju Sabuga, Paijo Narejambejo naik truk diesel.
Menuju Sabuga, truk diesel dinaiki Paijo Narejambejo.
Oke, kombinasi kalimat gue udah habis untuk menggambarkan inti momen ini berdasarkan kisah Popmi. Gue berusaha mencari dimana letak keistimewaan dari berkendara dengan truk, sampai ngebuat Paijo Narejambejo girang setengah mati dan segitu bangganya bisa naik truk sampai harus nelepon dan pamer ke Mbak Popmi segala.
EPIC, Paijo Narejambejo! Love your hilarity more and more day by day! :D