May 31st, 2012

Alun-Alun, Asia Afrika

Spot ketiga nih yang paling sabi, dengan tajuk utama #halah ‘kerjasama’. Di main gate yang terletak di lantai 3 jembatan penyeberangan Asia Afrika di belakang big screen, tim gue disambut sama Gilang sang Kadiv BRT dan Mitha asprak DPTI yang hellyeah gaul, yang langsung mengumandangkan game semacam Running Man.

Jadi tim gue battle dengan tim lain dan sementara Mitha jeprat-jepret, kami harus bersaing dengan tim lawan buat banyak-banyakan nampang dalam frame. Wajah anggota tim terbanyak yang nampang di frame hasil jepretan Mithalah yang menang.

Beberapa kata untuk mendeskripsikan game ini: liar, brutal, dan barbar. Kami saling dorong-dorongan dengan agresifnya buat nampang di frame. Ketendang, kejengkang, kecakar, dan kejambak (seperti gue hiks) adalah hal yang wajar di game seru ini haha.

Running Man ala MTI

Setelah itu, kita menuju museum Asia Afrika buat nyari inspirasi untuk bikin puisi kepahlawanan yang masing-masing barisnya ditulis oleh tiap anggota tim. Puisi berantai yang udah jadi ini kemudian diorasikan perwakilan tiap tim di pertigaan Braga-Asia Afrika. Muka badak jadi syarat utama deh. Pas Agus dengan gagahnya ngeorasiin puisi tim gue dengan semangat membara, beberapa penumpang bis pariwisata yang melintas ikut mengacung-acungkan tinju ngeliat aksi Si Agus.

Dari Asia Afrika, kami menuju Alun-Alun untuk menyelesaikan task di 2 pos lagi. Di salah satu pos, tim harus bekerja sama dengan tim lawan untuk menyalakan korek-korek api yang ditancapkan di styrofoam dengan obat nyamuk bakar. Sounds simple? Not at all, karena obat nyamuk bakarnya itu digantungkan pada benang yang diikatkan di jempol kaki belasan orang dari tim yang berbeda ini.

Di pos terakhir Alun-Alun, berpetak-petak abjad dari A-Z disebar acak di tanah. Kami harus bergandengan tangan membuat rantai manusia untuk menyeberang dari satu abjad ke abjad berikutnya dengan berurutan tanpa boleh melepas gandengan. Yang bikin riweuh, game ini battle antar tim juga; ada yang mulai dari huruf A, dan ada juga yang mulai dari huruf Z. Kebayang dong gimana ribetnya, apalagi di bagian intersection antar 2 tim kayak huruf-huruf seputaran K sampai P gitu. Our intersect positions were highly dicomfortableee.

Akhirnya kita memperoleh amplop terakhir yang berisi petunjuk final pit stop kami, yang ternyata ada di Monumen Pancasila.

Taman Makam Pahlawan

Main gate di Taman Makam Pahlawan super ga jelas berhubung penjaganya sempat jajan di Alfamart right when we arrived, alhasil kita bolak-balik tugu kembar sampe pertigaan depan TMP yang jaraknya ada kali ya 400 meter, jadi kalo dikalkulasiin hampir sekilo tuh kita lari-larian, yah lumayanlah ya bakar lemak sebelum liburan -,-

Agus and the boys. Meteor Garden wannabe banget

Di spot ini ada 3 pos juga yang tujuannya berkaitan dengan personal diri. Ada pos dimana kita harus berhasil mencapai ujung seberang dalam aturan berpetak-petak layaknya halma manusia, mencari kapabilitas influensi kita dalam kelompok, dan kemampuan persuasif kita.

Selain itu, ada game tantangan juga. Tim kami harus mencari 3 nama alm. pahlawan yang terpatri di tembok panjang berdimensi kurang lebih tinggi 2 meter dan panjang 15 meter. How did we supposed to find 3 names among thousands? Team work, baby, team work B-)

Nyari nama Alm. Durachim, Tuspan, dan Sudjono dalam bentuk koordinat perblok lebih susah daripada nyari ubannya anjing berbulu putih. Saat itu, gue bener-bener berharap bisa Ctrl+F, tapi yakali deh lo kata komputer apa.

Setelah nyelesain task-task di spot ini, we’re heading to our next spot: Alun-Alun, Asia Afrika.

Final Stage LKO MTI 2011

Oke gue tau post ini super duper telat, but what can I say? I’m about to blurt out soalnyaaa: LKO MTI 2011’s final stage was mind-blowing! :D

Poster teaser Final Stage LKO MTI 2010

Tagline teaser ini cukup menggigit, “You’ll never guess who shows up at finishing line”. Some grammatical errors? :p Who cares, cause I felt so damn challenged :D

Amazing Race MTI yang sempat gue ragukan ini (kirain bakal segaring Amazing Racenya diklat PROKM) ternyata over my expectation. And I really mean it. I was having such a good time, thrilled, excited, and more over, impressed.

Selama ini gue selalu rajin ngikutin sebagian besar perhelatan-perhelatan MTI meskipun ga terlalu aktif dan provokatif haha. Dan dari semuanya itu, jarang banget ada kegiatan MTI yang berkesan *no offense* selain Pengmas jaman PPAB dan Kembang Desa.

Final Stage keliling Bandung ini literally keliling Bandung. Bener-bener melanglang buana berputar-putar di area Bandung. Dimulai dari kampus, dengan 3 spots (Cikapayang, Taman Makam Pahlawan, Alun-Alun) dan 1 pit stop tempat closing yang masih misteri #eaaaa.

Gue setim sama Opi dan Agus para babes dari Wirasewaka (alhd bgt dapet cewe-cewe strong yang kuat lari dan ga cimpi menye-menye pake flat shoes dan tas cantik fufufu), Jahe sang ketua kelompok (lagi-lagi, ya lagi-lagi. Ga pas TPB, ga di kelas tingkat 2, ga dimana, entah kenapa selalu setim sama future husbandnya Sabe Si Mojang Bandung ini -,-), Marco si abang Siahaan yang jago orasi, Arif Sule yang cerdas dan yoi banget, plus aset berharga Kur Sang Pangeran Angkot Bandung B-)

Masing-masing kelompok dibagi amplop petunjuk. Amplop pertama tim gue isinya…. err… yah pokoknya sesuatu berbunyi “langit biru, merah menjulang, blablablaa…” yang langsung diinterpretasikan sebagai Taman Cikapayang sama Sule bahkan sebelum gue sempet nyelesain baca petunjuknya.

Begitu diberi aba-aba, seluruh tim langsung berlarian dengan barbarnya ke gerbang belakang ITB bagaikan preman siap tawuran versus geng motor. And here comes our adventures…

December 22nd, 2011
Gagan dan Ikhsan
Gagan dan Ikhsan, adik-adik cilik yang rumahnya kami invasi selama akhir pekan Kembang Desa di Kampung Cibuluh. Kakak beradik yang dibesarkan pasangan Bapak Ujang Juhya dan Ibu Wati ini umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari adik gue yang manja tapi super gue sayangi—eh nah loh ga relevan kan nah lanjuutt.
Si bungsu, Gagan (the boy with the orange shirt), baru duduk di kelas 2 SD. Tapi jahilnya masyaoloh ampun-ampunan banget bikin nenek-nenek ngunyah sirih keselek. Bocah jahil ini super friendly, baru kenal sebentar udah mau rangkul-rangkulan dan kampretnya udah berani morotin kakaknya ini haha.
Jadi ceritanya dia tuh pengen banget naik perahu keliling desa, tapi dasar gue ga modal, di kantong cuma ada 6ribu perak plus satu pak kecil permen Su*us. Ya kali bayar perahu pake Su*us. Terus gue ga ngerti entah gimana caranya, pokoknya pada akhir cerita kami berhasil naik perahu muter-muter, tapi duit gue raib trus permen gue dari satu pak sisa 2 biji doang. Iya, dia emang bocah ajaib.
Meskipun jahil, Si Gagan ini punya cita-cita mulia menjadi orang saleh macem priayi-priayi zaman Batavia loh. Subhanallah sekali. Marilah Sodara-sodara sekalian kita doakan agar cita-cita Dek Gagan terwujud amiiiiiin.
Ikhsan, si Sulung yang tampan dan jago ngaji ini beda lagi. Dia udah kelas 5 SD dan gue jamin kelak bakalan jadi a true gentleman. Kalo gue punya adek cewe bakal gue pinangin deh mereka berdua! #loh. Ikhsan selalu nemenin kita kemana pun kita pergi dan bertindak kayak tour guide Cibuluh. Diajak ke kebun tomat, kebun kubis, kebun waluh, danau, tempat ayam, dll.
Si sulung ini juga protektif banget. Waktu jalan-jalan ke danau, Gagan yang jahil nangkepin kodok-kodok danau trus dilempar-lempar ke kita. Jelaslah gue dan temen-temen gue yang manja dan ababil ini berteriak-teriak histeris. Ikhsan langsung datang dengan gagahnya menghalau kodok-kodok itu dan menjauhkan Gagan dari gue dan teman-teman, sampe akhirnya dia sendiri berantem sama Gagan.
Gagan yang ngambek lalu kabur, ngumpet di entah pojok desa sebelah mana. Ikhsan menginstruksikan supaya kita balik duluan ke rumah sementara dia nyari adiknya. How gentle and brotherly :3
Kulit Ikhsan dan Gagan yang legam bukan karena keturunan atau terbakar sinar matahari. Sementara Pak Ujang bertani di Surabaya dan Bu Yati merantau ke Arab Saudi, Ikhsan dan Gagan dititipkan di Uwanya di Bangka Belitung selama 4 tahun.
Di Bangka inilah, mereka tinggal dekat sekali dengan site pertambangan timah, dimana limbah-limbah perusahaannya ga terkontrol dan bahkan mendengar ceritanya, gue ga yakin perusahaan itu lolos AMDAL. Air disana tercemar timah, sehingga kulit penduduk sekitar situs pertambangan tsb legam semua dan gigi mereka keropos serta kekuningan.
Ternyata, Gagan dan Ikhsan baru 5 bulan tinggal di Cibuluh. Sepulangnya Ibu Yati dari perantauan di Arab Saudi, Ibu Yati berhasil membeli rumah di Kampung Cibuluh itu. Pak Ujang pun datang dari Surabaya, mempercayakan lahan pertaniannya pada anak-anak dari istri pertamanya.
Mereka ingin berkumpul lagi, tapi Uwa di Bangka ga mengizinkan Ikhsan dan Gagan kembali ke pangkuan sang ibunda #cekileeh. Biasalah, masalah duit. Dengan kembalinya Ikhsan-Gagan ke tangan orang tuanya, berhenti pula aliran duit ‘tunjangan hidup’ Ikhsan-Gagan. Uwa mengizinkan mereka kembali, dengan syarat dikirimi 2juta/bulan. Yakali deh palalo minta 2juta/bulan, duit kosan gue aja ga segitunya.
Perebutan hak asuh ini terjadi sampai lebih dari setahun. Bahkan, Pak Ujang dan Bu Yati mengaku mereka udah pernah menghubungi Tra*sTV  berkali-kali untuk pencarian orang hilang di Terme*ek-Me*ek, tapi ga pernah dapet jawaban dari Tra*sTV. DEG. Gue sedikit merasa bersalah. Dari SMA, gue selalu nonton Terme*ek-Me*ek untuk dijadikan bahan tertawaan karena rekayasa-rekayasanya yang lebay dan sinetron abis. Sedih dan agak kaget, ga nyangka kalo Pak Ujang dan Bu Yati sesederhana itu, mau berusaha dan memanfaatkan media apapun yang terpikir oleh mereka buat mengusahakan berkumpul lagi sama anak-anak mereka :’|
Sekitar 5 bulan yang lalu, Ikhsan dan Gagan dibawa Uwanya ke Jawa untuk urusan apa gitu ya gataulah. Begitu tau anak mereka ada di Jawa, tanpa persiapan apapun Pak Ujang langsung nombok nyewa mobil orang, lalu memboyong anak mereka ke Cibuluh. Kakak beradik ini sampai di Cibuluh dini hari, hanya dengan barang seadanya saja setelah dijemput Pak Ujang. Bahkan, rapor sekolah mereka pun masih Bangka.
Bu Yati dan Pak Ujang enggan minta tolong Uwa di Bangka untuk mengurusi kepindahan sekolah dan rapor Ikhsan dan Gagan, karena pasti lagi-lagi larinya ke uang. Uang, uang, dan uang. All money-oriented. Sekarang mereka lagi nyoba nyari kontak kepala sekolah SD Ikhsan dan Gagan, agar mereka bisa ngurus langsung rapor kedua anak mereka tanpa harus melalui Uwa yang matre.
Ikhsan dan Gagan sekarang sekolah tanpa rapor. Hanya bermodal mengejar ilmu aja, tanpa suatu parameter konkret untuk diperjuangkan. Ikhsan yang tahun depan harus mengikuti UN ga bakal bisa dapet ijazah tanpa rapornya. Mudah-mudahan Pak Ujang dan Bu Yati bisa cepat memperoleh balik rapor mereka deh ya. Tapi yang terpenting, mudah-mudahan kedua bocah ini ga patah semangat untuk belajar dan terus belajar, dengan ataupun tanpa rapor.

Gagan dan Ikhsan

Gagan dan Ikhsan, adik-adik cilik yang rumahnya kami invasi selama akhir pekan Kembang Desa di Kampung Cibuluh. Kakak beradik yang dibesarkan pasangan Bapak Ujang Juhya dan Ibu Wati ini umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari adik gue yang manja tapi super gue sayangi—eh nah loh ga relevan kan nah lanjuutt.

Si bungsu, Gagan (the boy with the orange shirt), baru duduk di kelas 2 SD. Tapi jahilnya masyaoloh ampun-ampunan banget bikin nenek-nenek ngunyah sirih keselek. Bocah jahil ini super friendly, baru kenal sebentar udah mau rangkul-rangkulan dan kampretnya udah berani morotin kakaknya ini haha.

Jadi ceritanya dia tuh pengen banget naik perahu keliling desa, tapi dasar gue ga modal, di kantong cuma ada 6ribu perak plus satu pak kecil permen Su*us. Ya kali bayar perahu pake Su*us. Terus gue ga ngerti entah gimana caranya, pokoknya pada akhir cerita kami berhasil naik perahu muter-muter, tapi duit gue raib trus permen gue dari satu pak sisa 2 biji doang. Iya, dia emang bocah ajaib.

Meskipun jahil, Si Gagan ini punya cita-cita mulia menjadi orang saleh macem priayi-priayi zaman Batavia loh. Subhanallah sekali. Marilah Sodara-sodara sekalian kita doakan agar cita-cita Dek Gagan terwujud amiiiiiin.

Ikhsan, si Sulung yang tampan dan jago ngaji ini beda lagi. Dia udah kelas 5 SD dan gue jamin kelak bakalan jadi a true gentleman. Kalo gue punya adek cewe bakal gue pinangin deh mereka berdua! #loh. Ikhsan selalu nemenin kita kemana pun kita pergi dan bertindak kayak tour guide Cibuluh. Diajak ke kebun tomat, kebun kubis, kebun waluh, danau, tempat ayam, dll.

Si sulung ini juga protektif banget. Waktu jalan-jalan ke danau, Gagan yang jahil nangkepin kodok-kodok danau trus dilempar-lempar ke kita. Jelaslah gue dan temen-temen gue yang manja dan ababil ini berteriak-teriak histeris. Ikhsan langsung datang dengan gagahnya menghalau kodok-kodok itu dan menjauhkan Gagan dari gue dan teman-teman, sampe akhirnya dia sendiri berantem sama Gagan.

Gagan yang ngambek lalu kabur, ngumpet di entah pojok desa sebelah mana. Ikhsan menginstruksikan supaya kita balik duluan ke rumah sementara dia nyari adiknya. How gentle and brotherly :3

Kulit Ikhsan dan Gagan yang legam bukan karena keturunan atau terbakar sinar matahari. Sementara Pak Ujang bertani di Surabaya dan Bu Yati merantau ke Arab Saudi, Ikhsan dan Gagan dititipkan di Uwanya di Bangka Belitung selama 4 tahun.

Di Bangka inilah, mereka tinggal dekat sekali dengan site pertambangan timah, dimana limbah-limbah perusahaannya ga terkontrol dan bahkan mendengar ceritanya, gue ga yakin perusahaan itu lolos AMDAL. Air disana tercemar timah, sehingga kulit penduduk sekitar situs pertambangan tsb legam semua dan gigi mereka keropos serta kekuningan.

Ternyata, Gagan dan Ikhsan baru 5 bulan tinggal di Cibuluh. Sepulangnya Ibu Yati dari perantauan di Arab Saudi, Ibu Yati berhasil membeli rumah di Kampung Cibuluh itu. Pak Ujang pun datang dari Surabaya, mempercayakan lahan pertaniannya pada anak-anak dari istri pertamanya.

Mereka ingin berkumpul lagi, tapi Uwa di Bangka ga mengizinkan Ikhsan dan Gagan kembali ke pangkuan sang ibunda #cekileeh. Biasalah, masalah duit. Dengan kembalinya Ikhsan-Gagan ke tangan orang tuanya, berhenti pula aliran duit ‘tunjangan hidup’ Ikhsan-Gagan. Uwa mengizinkan mereka kembali, dengan syarat dikirimi 2juta/bulan. Yakali deh palalo minta 2juta/bulan, duit kosan gue aja ga segitunya.

Perebutan hak asuh ini terjadi sampai lebih dari setahun. Bahkan, Pak Ujang dan Bu Yati mengaku mereka udah pernah menghubungi Tra*sTVĀ  berkali-kali untuk pencarian orang hilang di Terme*ek-Me*ek, tapi ga pernah dapet jawaban dari Tra*sTV. DEG. Gue sedikit merasa bersalah. Dari SMA, gue selalu nonton Terme*ek-Me*ek untuk dijadikan bahan tertawaan karena rekayasa-rekayasanya yang lebay dan sinetron abis. Sedih dan agak kaget, ga nyangka kalo Pak Ujang dan Bu Yati sesederhana itu, mau berusaha dan memanfaatkan media apapun yang terpikir oleh mereka buat mengusahakan berkumpul lagi sama anak-anak mereka :’|

Sekitar 5 bulan yang lalu, Ikhsan dan Gagan dibawa Uwanya ke Jawa untuk urusan apa gitu ya gataulah. Begitu tau anak mereka ada di Jawa, tanpa persiapan apapun Pak Ujang langsung nombok nyewa mobil orang, lalu memboyong anak mereka ke Cibuluh. Kakak beradik ini sampai di Cibuluh dini hari, hanya dengan barang seadanya saja setelah dijemput Pak Ujang. Bahkan, rapor sekolah mereka pun masih Bangka.

Bu Yati dan Pak Ujang enggan minta tolong Uwa di Bangka untuk mengurusi kepindahan sekolah dan rapor Ikhsan dan Gagan, karena pasti lagi-lagi larinya ke uang. Uang, uang, dan uang. All money-oriented. Sekarang mereka lagi nyoba nyari kontak kepala sekolah SD Ikhsan dan Gagan, agar mereka bisa ngurus langsung rapor kedua anak mereka tanpa harus melalui Uwa yang matre.

Ikhsan dan Gagan sekarang sekolah tanpa rapor. Hanya bermodal mengejar ilmu aja, tanpa suatu parameter konkret untuk diperjuangkan. Ikhsan yang tahun depan harus mengikuti UN ga bakal bisa dapet ijazah tanpa rapornya. Mudah-mudahan Pak Ujang dan Bu Yati bisa cepat memperoleh balik rapor mereka deh ya. Tapi yang terpenting, mudah-mudahan kedua bocah ini ga patah semangat untuk belajar dan terus belajar, dengan ataupun tanpa rapor.

Kembang Desa at Kampung Cibuluh, Desa Pulosari - Pangalengan

Because together we can always share :)

December 18th, 2011

Have you been grateful today?

Spending weekend in Cibuluh Village is kinda slap on the cheeks. The acknowledgement of me being such a spoiled brat jolted me the minute I start rethink about Cibuluh. The village, the people, the warm welcomes, the humility… All the graces above their insufficient daily needs.

They live in a mediocre life and careful use of their food. Yet, by the time I arrived at the house where my roomies and I should spend our weekend, Ibu hosted me warmly and offered me a plate of warm rice generously. Yes, just a plate of warm rice.

She was really sorry and felt guilty that Bapak couldn’t catch any fish the night before so she couldn’t serve some proper food. She’s not sorry for not being able to give her 2 little kids food but rice. She’s sorry for not being able to serve us fried fish.

Have you been grateful for food you’ve eaten today? Every single rice grain you’ve had in your tummy? Cause boy, you’ve no idea how they work hard for a liter of rice. Not even fish, or maybe beef you can purchase with your pocket money easily.

Have you been grateful for clean water you use for bathing? The hot water? They are lack of clean water so every time it is raining, they collect the freezing water in big narrow buckets and use it for their daily needs. There is no hot water there, even though it’s around 18oC and 10-14oC on the night till dawn.

Have you been grateful for your TV Cable? Your Blackberry? Your Mac? Your Apple Ipod? Your hairdryer? Your electronic stuffs which consume hell like a lot of electricity? People of Cibuluh use their electricity only for lighting on the nights and small inches TV in the days.

You, living in a big city, rotten in hectic schedules with all sufficient daily needs, have you ever thought about people out there, out where they have to work that hard for their prime daily needs?

Have you ever thought how blessed you are? Have you said thank you?

No matter what you are—an agnostic, a Christian, a Moslem, a Buddhist, a Sikhist, a Jainist, a Santerian or what—take a moment each and every day. Being grateful. Being thanks for all the blessings shed upon you.

For the food, water, electricity, fluffy warm bed, health, clean clothes, warm weather, chances of going to various places, opportunities to do a lot of things, and lot of blessings.

Let’s say thank you and be grateful :)

October 18th, 2011

A glimpse of Pengmas MTI 2010.

Created by Ibadurrahman Sidik, a quiet yet talented guy. Way to go, Ibad! :O

When we were finally regarded…

Sudah hampir 2 minggu kami mendapat privilege jalan di kampus dengan bersampirkan jaket himpunan. Menguak kembali memori saat-saat pelantikan…

Kala itu, tetesan air hujan membasahi bumi Ganesha. Kami berdiri beriring-iringan, saling mensupport teman-teman di sebelah satu sama lain. Rapat dan kokoh, dengan satu asa yang sama.

Kami bersiap. Di bawah sorotan lampu halogen yang membiaskan rona jingga hangat di tembok batu sekretariat MTI, dan di depan panji MTI yang menjulang setinggi 3 meter di hadapan kami.

Kami meneguhkan diri di bawah 2 bendera MTI yang derai kibasannya membelah tegas dini hari yang sepi. Pasukan bendera yang berdiri di atas langit-langit selasar secretariat himpunan mengibarkan bendera kebanggaan dengan gagah dan megahnya.

Di bawah naungan ponco masing-masing yang melindungi kami dari tamparan air hujan, 5 set Avanti MTI terus dikumandangkan berturut-turut tanpa henti oleh kami, para kader 2010. Kaki menghentak tanah MTI, tinju mengepal kuat mengacung-acung di bawah dagu mengikuti beat. Avanti MTI! Esprit de Corps!

Jumat bergulir berganti Sabtu. Sekitar pukul 1 dinihari, Sang Ketua Himpunan membacakan surat keputusan penerimaan kami, anggota-anggota muda MTI 2010. Ya, kami bukan lagi seorang kader. Diakui sebagai anggota muda MTI 2010, apa yang siap kami kontribusikan untuk MTI?

Plan your work and work your plan. Do think, do act, do evaluate.

September 27th, 2011

Acep’s Dream

Secarik kertas oranye itu hanyalah kertas biasa dengan tulisan tangan sederhana di atasnya.

Nama: Acep

Kelas: VI B

Cita-cita: Belajar ke SMP, astronot.

Oh wow. He’s just a boy, a simple young little boy with his big dream.

Hanya sebentar mengobrol dengan Acep, orang pasti langsung tau kalo Acep ini anak baik. Literally good boy. Sederhana, polos, dan ga neko-neko. Hanya ingin ngelanjutin pendidikan ke SMP aja, setelah itu jadi astronot.

Sempat juga bertanya pada Acep,

“Cep, kenapa cita-citanya belajar ke SMP sama astronot?”

“Acep suka sama yang bintang-bintang gitu, Kak.”

“Kalo yang belajar ke SMP?”

“Itu juga cita-cita Acep, soalnya Acep takut ga bisa SMP. Uang Acep ga banyak Kak, hehehehe…” Acep tertawa jujur. Sederhana, terbuka, polos.

“……”

Some kind of guilt jolted me. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ga pernah jadi cita-cita gue, sama sekali ga pernah. Melanjutkan ke jenjang selanjutnya lebih seperti obligasi buat gue, sesuatu yang jalannya udah terbuka dan emang harus gue lalui. Ga pernah sekalipun gue berpikir untuk menjadikan ‘belajar ke jenjang yang lebih tinggi’ sebagai cita-cita gue.

Sementara Acep menjadikan masuk SMP sebagai cita-cita, gue yang udah bisa mengecap bangku kuliah malah leha-leha menye-menye melambai syalala dengan daya juang gue yang lemah. Sampah.

Dear Acep, I wish you every success and may you always have the best of good things in pursuing your dream.

Innocent smiles :D

Pengmas Day #2

Pengmas hari kedua… Uhm you could say I’m speechless, to many precious lessons to be written here #eaaa #soksokan.

Angkat kaki dari kubus jam 6 pagi nebeng mobil Vicario yang disetiri Michael (berhubung si yang empunya mobil teler begadang semaleman nyusun teklap), gue berangkat bareng Ryan, Sabe, Felis dan Gita, dan jadi kloter pertama yang tiba di SD Langensari. Bener-bener pionir abis deh.

Being the first man standing on Langensari that morning was quite a mistake yet hilariously fun LOL :D A bunch of excited kids with quite high idle curiosity for their age ran into us and clang onto our arms, started talking and asking with no time to breathe. I wish I had a pair of extra arms that day to hold every kids’ hands.

Risma, gadis kecil yang jadi salah satu ‘pendengar setia’ gue kemarin langsung bikin pengumuman kenceng-kenceng bak pakai toa padahal engga, “Eh, eh eh! Ini teteh yang punya banyak cerita kemarin itu loh! Yang punya cerita putri-putrian juga!”

Segerombol gadis-gadis kecil tanpa dikomando langsung menyerbu dan mengepung, lalu menggiring gue ke salah satu spot selasar kelas dan ditodong buat ngedongengin mereka *kenapa sepintas kalimatnya kayak berita kriminal gini ya; ada menyerbu, mengepung, menggiring, dan ditodongnya segala haha*.

Setelah selesai debat, akhirnya mereka milih cerita Sleeping Beauty among Snow White, Cinderella, dan Beauty and The Beast. Untung gue udah katam putri-putrian Disney, kalo engga bingung juga harus dongengin apa ke gadis-gadis cilik manis namun sedikit barbar ini hahaha becanda ya Dek :*

Blablabla, acara mulai dengan sambutan-sambutan dan senam pagi heboh nan kocak yang diinstruktrui Sabe. Meskipun gue udah tau detail-detail lagunya berhubung Sabe nyusun lagu senamnya barengan, tetep aja gue ngakak akbar ngeliat ulah Mojang Geulis Bandung yang ga tau malu ini. Bahkan Dodop, Kahim MTI pun ikut senyum sambil gedek-gedek. Super sekali, Shabrina! :D

Setelah sarapan, pengmas dilakukan dengan mentoring lalu minilab. Gue bersama Baim menjadi mentor kelompok 10, yang dengan suksesnya memandu 8 bocah SDN 1 Langensari memenangkan 8 game dari 8 pos di sesi Amazing Race B-)

Blablabla, pengmas hari itu selesai dengan penempelan kartu cita-cita dan tentu saja: FOTO-FOTO hahaha. Though it was a drop dead exhausting day, I laughed a lot, learned a lot, and found out that it’s a shame of me if I spend my time grumbling over some silly stuff while I have tons of things to be thankful for. Thanks for the honest smiles, and thank you for reminding me how simple life actually is, kiddos :)

<3 :*

September 26th, 2011

Simple innocent happines :)

Because everybody loves hoolahooping!

Pengmas Day #1

Pada pengmas hari pertama ini, kita bersih-bersih sekolahnya dulu dan menyulap ruang perpus SDN 1 Langensari menjadi perpus yang super pewe dengan isi yang menarik juga supaya anak-anak jadi pada seneng dan rajin baca.

Rencana awal: pergi jam 9, mulai bersih-bersih jam 10 (noh kurang rajin apa tuh dr jam 10 udah bebersihan)

Realita: kita mulai berangkat dari kampus jam set. 11, mulai bersih-bersih baru jam set. 12an.

Emang deh bukan MTI2010 namanya kalo ga ngaret. Misalnya Pak Ketan ngejarkom nyuruh kumpul angkatan jam 3, agenda jalan juga baru jam 5 karena kengaretan kita-kita. Maafkan kengaretan kami ya, wahai Alif Pak Ketan kita yang super sabar :’)

Gue naik mobil Vania dan dengan kemampuan navigasi yang brilian (cih sombong amat haha), kami berhasil nyampe Lembang dengan selamat tanpa nyasar sama sekali. Tapi masalahnya, kita gatau sama sekali letak SDN 1 Langensari yang katanya naik turun gunung dan terpencil itu.

Bermodalkan arahan dari Sangga yang super minim dan tanya-tanya penduduk sekitar, akhirnya kita nyampe juga ke Langensari dan menemukan lapangan bola yang jadi tempat parkir. Saat menuju lapangan, kita terdistraksi sama Hans dengan kaos merah menyalanya dan rambut berkibar-kibar ketiup angin (lo kata bendera apa) yang lagi heboh main bola sama anak-anak setempat. Dipengaruhi euforia karena sukses nyampe ke TKP, kita berseru-seru dengan noraknya, “Eh itu Hans! Itu Hans! Lagi main bola! Kita udah nyampe! HOREE NYAMPE!”

BRAAKK! Sorakan-sorakan kami terhenti begitu kami terpental ke depan dan untungnya masi tertahan sama seat belt. Apa yang terjadi? Uh oh, ternyata mobil Vania nabrak beton saking bersemangatnya kami ngeliatin rambut Hans yang berkibar-kibar. Bemper Vania rusak, fixed rusaknya itu rusak dan harus dibawa ke bengkel, ga bisa dibenerin atau poles-poles abal.

The sacrificed bumper :’(

Dan mulai detik itu, gue menobatkan rambut Hans adalah rambut terdistraktif se-Langensari karena berhasil ngebuat orang nabrak hanya dengan melihat kibasan rambutnya #eaaaa.

Buat bersih-bersih, gue kebagian ngebersihin ruang kelas 6 dengan PJ Rian Triantoro. Mulailah gue nyapu-nyapu dengan bersenjatakan masker doang. Dibantu adik-adik yang excitementnya ga kalah heboh dari kita semua, gue mulai angkat-angkat dan geret-geret meja dengan powerfullnya demi ngeluarin setiap titik debu yang ada di ruang kelas 6 itu.

Datang dengan gagah menembus terpaan angin debu bersenjatakan sapu dan pengki (SAYANG sapu dan pengkinya cuma kefoto seujung gagang HAHA).

Gue bertransformasi jadi wanita perkasa loh hari itu. Lemari gede di pojok belakang kelas berhasil gue geser hanya dengan bantuan gadis SD kecil bernama Risma. Uhwoow bisa nih gue jadi iklan Hemaviton Strong for Teen *kayak ada aja produk gituan*. Setelah berhasil menggeser lemari raksasa itu, gue mulai nyapu-nyapu belakang lemarinya dan mengeluarkan berupa-rupa kotoran dari balik sana.

Mulai dari kertas. Hmmm wajar lah ya, secara mereka belajar.

Trus plastik. Oh okay, pasti mereka abis jajan di warung trus buang sampah sembarangan.

Trus plastisin. Baiklah.

Rafia. Lalu mulai keluar benda-benda ajaib.

Busur panah. Adakah Robin Hood di kelas itu?

Tulang ayam. HAH?

Bumbu pecel yang bentuknya udah ga jelas lagi. Hmmm… Oke gue ga ngerti lagi, keep nyapu and get the classroom cleaned uhyea! Akhirnya kegiatan sapu menyapu gue selesai bertepatan dengan waktu Dzuhur. Aaaah leganyaaa bisa istirahat setelah encok nunduk-nunduk nyapu kolong-kolong kursi.

Tim kebersihan yang kece-kece B-) Niscaya kami akan sukses mengelola minimal perusahaan sanitasi amiiiiiin.

Setelah nyapu, sambil nunggu debu turun buat dipel, gue ke ruang berisi dus-dus buku dan menemukan banyak anak dengan semangatnya baca-baca buku. Baru duduk, beberapa anak langsung ngerubung dengan mengacung-acungkan buku pilihan masing-masing minta dibacain. Subhanallah, sesuatu banget.

Gue mulai bercerita. Cerita, cerita, dan cerita. Dari barat ke timur. Dari hulu sampai hilir. Dari Banten sampai Banyuwangi. Dari matahari terbit sampai tenggelam lagi #gadenglebay haha. Adik-adiknya interaktif banget, mereka nanyain semua-semuanya, dan gue digali buat nyampein semua yang mereka tanyain. Mereka manis-manis banget, dengan excitednya duduk berkerubung de sekeliling gue dan menyimak semua yang keluar dari mulut gue. Nonstop ngomong deh pokoknya.

Tema pengmas hari pertama buat gue mungkin adalah berbusa-busa haha.

Menggebu-gebu bercerita ke adik-adik sampe ga nyadar mulut monyong muka ga kontrol. Pokoknya kesimpulannya jelek sekali GROAAAARRR.

Dari ngejelasin ensiklopedia binatang laut sampe ngedongengin Putri Duyung Ariel, lalu cerita tentang tragedi adik gue yang pernah berenang di laut trus disengat ubur-ubur.

Dari ngejelasin ensiklopedia planet-planet sampe cerita tentang berbagai macam alien dan film War of The World.

Dari ngejelasin ensiklopedia kebumian, sampe berkisah tentang pengalaman gue ngerasain gempa 6 SR super jedar-jeder di Sumbawa yang sampe bikin rumah mati lampu.

Dari cerita tentang Nabi Nuh sampai pada kapal Titanic. Ngalor ngidul dan super random, tapi mereka tetap nyimak. Sumpah salut banget sama semangat mereka untuk memperluas wawasan :’)

Ga terasa Iie masuk dan ngajak anak-anak sholat. Astaga, mereka udah ngedengerin gue berbacot ria dari beres Dzuhur sampe Azar, dan gue practically ga berhenti ngomong selama itu juga :O

Lanjut bersih-bersih, akhirnya setengah 5an kita pulang. See you tomorrow, adik-adik kecil manis! :)

Pengmas MTI2010

Sebagai syarat osjur blablabla, kami MTI2010 bikin suatu rangkaian acara Gerigi alias Gerakan Inisiasi Keluarga MTI2010. Gerigi punya 3 acara utama:

  • Kekeluargaan: Buka puasa bareng + makrab
  • Ke-MTI-an: MTI Fun Tournament
  • Pengabdian Masyarakat

Gerigi yang memiliki tagline “Gemeees, Riaaaang, Gembiraaaa!” yang dibikin kilat, spontan dan dadakan pada acara pertamanya ini bermomentum puncak pada Pengabdian Masyarakat. Entah kenapa gue juga paling excited sama Pengmasnya walaupun jadi panitia kekeluargaan. Uhwoooow I can’t wait kakaaaa :3

Pengmas MTI2010 dilaksanakan dua hari pada weekend terakhir bulan September.

This weekend was such a blast and I’m spending my time on laughing, learning, and being grateful. Thank you, kiddos. Happy spending my weekend with you all :’)