Gagan dan Ikhsan
Gagan dan Ikhsan, adik-adik cilik yang rumahnya kami invasi selama akhir pekan Kembang Desa di Kampung Cibuluh. Kakak beradik yang dibesarkan pasangan Bapak Ujang Juhya dan Ibu Wati ini umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari adik gue yang manja tapi super gue sayangi—eh nah loh ga relevan kan nah lanjuutt.
Si bungsu, Gagan (the boy with the orange shirt), baru duduk di kelas 2 SD. Tapi jahilnya masyaoloh ampun-ampunan banget bikin nenek-nenek ngunyah sirih keselek. Bocah jahil ini super friendly, baru kenal sebentar udah mau rangkul-rangkulan dan kampretnya udah berani morotin kakaknya ini haha.
Jadi ceritanya dia tuh pengen banget naik perahu keliling desa, tapi dasar gue ga modal, di kantong cuma ada 6ribu perak plus satu pak kecil permen Su*us. Ya kali bayar perahu pake Su*us. Terus gue ga ngerti entah gimana caranya, pokoknya pada akhir cerita kami berhasil naik perahu muter-muter, tapi duit gue raib trus permen gue dari satu pak sisa 2 biji doang. Iya, dia emang bocah ajaib.
Meskipun jahil, Si Gagan ini punya cita-cita mulia menjadi orang saleh macem priayi-priayi zaman Batavia loh. Subhanallah sekali. Marilah Sodara-sodara sekalian kita doakan agar cita-cita Dek Gagan terwujud amiiiiiin.
Ikhsan, si Sulung yang tampan dan jago ngaji ini beda lagi. Dia udah kelas 5 SD dan gue jamin kelak bakalan jadi a true gentleman. Kalo gue punya adek cewe bakal gue pinangin deh mereka berdua! #loh. Ikhsan selalu nemenin kita kemana pun kita pergi dan bertindak kayak tour guide Cibuluh. Diajak ke kebun tomat, kebun kubis, kebun waluh, danau, tempat ayam, dll.
Si sulung ini juga protektif banget. Waktu jalan-jalan ke danau, Gagan yang jahil nangkepin kodok-kodok danau trus dilempar-lempar ke kita. Jelaslah gue dan temen-temen gue yang manja dan ababil ini berteriak-teriak histeris. Ikhsan langsung datang dengan gagahnya menghalau kodok-kodok itu dan menjauhkan Gagan dari gue dan teman-teman, sampe akhirnya dia sendiri berantem sama Gagan.
Gagan yang ngambek lalu kabur, ngumpet di entah pojok desa sebelah mana. Ikhsan menginstruksikan supaya kita balik duluan ke rumah sementara dia nyari adiknya. How gentle and brotherly :3
Kulit Ikhsan dan Gagan yang legam bukan karena keturunan atau terbakar sinar matahari. Sementara Pak Ujang bertani di Surabaya dan Bu Yati merantau ke Arab Saudi, Ikhsan dan Gagan dititipkan di Uwanya di Bangka Belitung selama 4 tahun.
Di Bangka inilah, mereka tinggal dekat sekali dengan site pertambangan timah, dimana limbah-limbah perusahaannya ga terkontrol dan bahkan mendengar ceritanya, gue ga yakin perusahaan itu lolos AMDAL. Air disana tercemar timah, sehingga kulit penduduk sekitar situs pertambangan tsb legam semua dan gigi mereka keropos serta kekuningan.
Ternyata, Gagan dan Ikhsan baru 5 bulan tinggal di Cibuluh. Sepulangnya Ibu Yati dari perantauan di Arab Saudi, Ibu Yati berhasil membeli rumah di Kampung Cibuluh itu. Pak Ujang pun datang dari Surabaya, mempercayakan lahan pertaniannya pada anak-anak dari istri pertamanya.
Mereka ingin berkumpul lagi, tapi Uwa di Bangka ga mengizinkan Ikhsan dan Gagan kembali ke pangkuan sang ibunda #cekileeh. Biasalah, masalah duit. Dengan kembalinya Ikhsan-Gagan ke tangan orang tuanya, berhenti pula aliran duit ‘tunjangan hidup’ Ikhsan-Gagan. Uwa mengizinkan mereka kembali, dengan syarat dikirimi 2juta/bulan. Yakali deh palalo minta 2juta/bulan, duit kosan gue aja ga segitunya.
Perebutan hak asuh ini terjadi sampai lebih dari setahun. Bahkan, Pak Ujang dan Bu Yati mengaku mereka udah pernah menghubungi Tra*sTVĀ berkali-kali untuk pencarian orang hilang di Terme*ek-Me*ek, tapi ga pernah dapet jawaban dari Tra*sTV. DEG. Gue sedikit merasa bersalah. Dari SMA, gue selalu nonton Terme*ek-Me*ek untuk dijadikan bahan tertawaan karena rekayasa-rekayasanya yang lebay dan sinetron abis. Sedih dan agak kaget, ga nyangka kalo Pak Ujang dan Bu Yati sesederhana itu, mau berusaha dan memanfaatkan media apapun yang terpikir oleh mereka buat mengusahakan berkumpul lagi sama anak-anak mereka :’|
Sekitar 5 bulan yang lalu, Ikhsan dan Gagan dibawa Uwanya ke Jawa untuk urusan apa gitu ya gataulah. Begitu tau anak mereka ada di Jawa, tanpa persiapan apapun Pak Ujang langsung nombok nyewa mobil orang, lalu memboyong anak mereka ke Cibuluh. Kakak beradik ini sampai di Cibuluh dini hari, hanya dengan barang seadanya saja setelah dijemput Pak Ujang. Bahkan, rapor sekolah mereka pun masih Bangka.
Bu Yati dan Pak Ujang enggan minta tolong Uwa di Bangka untuk mengurusi kepindahan sekolah dan rapor Ikhsan dan Gagan, karena pasti lagi-lagi larinya ke uang. Uang, uang, dan uang. All money-oriented. Sekarang mereka lagi nyoba nyari kontak kepala sekolah SD Ikhsan dan Gagan, agar mereka bisa ngurus langsung rapor kedua anak mereka tanpa harus melalui Uwa yang matre.
Ikhsan dan Gagan sekarang sekolah tanpa rapor. Hanya bermodal mengejar ilmu aja, tanpa suatu parameter konkret untuk diperjuangkan. Ikhsan yang tahun depan harus mengikuti UN ga bakal bisa dapet ijazah tanpa rapornya. Mudah-mudahan Pak Ujang dan Bu Yati bisa cepat memperoleh balik rapor mereka deh ya. Tapi yang terpenting, mudah-mudahan kedua bocah ini ga patah semangat untuk belajar dan terus belajar, dengan ataupun tanpa rapor.















